Friday, 20 July 2018

Suka Duka Ditolak SNMPTN #3

Gagal itu sakit. Pasti. Identik dengan kesuraman. Apa yang diinginkan dan diharapkan tidak atau belum didapatkan. Sakit.

Apalagi kegagalan yang berkaitan dengan masa depan.

Tapi, setelah aku renungkan, berbagai nasihat dan support dari keluarga, temen-temen, doi membuat pikiran dan sudut pandangku terhadap sebuah kegagalan pun mulai membelok ke haluan lain.

Gagal itu duka, ketika kita menganggapnya musibah dan tetap tak menerima kehadirannya.

Gagal itu suka, ketika kita ikhlas dan bersyukur, bila kita menganggap bahwa Dia, yang memutuskan kegagalan, berharap agar kita lebih berusaha dan memperbaiki diri dijalan-Nya.

Gagal itu penguji kesabaran dan keimanan yang hebat.



Aku ngerasa kalau kegagalanku pada SNMPTN kemarin berkaitan erat dengan bagaimana hubungan dan perasaanku pada 'orang baru' di keluargaku.

Benar-benar penuh negatif thinking dan rasa tidak suka padanya. Dan mungkin aku juga kurang bersyukur dan malah lebih sering mengeluh karena kondisi yang ada pada saat-saat penantian SNMPTN. Masalah utamanya, ya, finansial.

Tapi, berkat aku gagal kemarin. Pikiran dan hatiku mulai terbuka. Ketika aku menyadarinya... Oh iya ya, mungkin benar karena itu aku jadi tidak lolos SNMPTN. Dan mungkin bila aku lolos, aku tidak sempat merasakan kegagalan yang nikmat juga tak nikmat. 

Dan mungkin juga saat ini hubunganku dan perasaanku pada si 'orang baru' masih sama seperti dulu, buruk.

Ah, jelek sekali, kan?

Kemudian, perlahan, lambat laun, aku mulai menerima kondisi yang ada. Sembari aku belajar SBM, aku perbanyak doa dan minta ampun pada-Nya. 

Dan aku mulai benar-benar menerima kehadiran si 'orang baru'. Mulai menganggap pertanyaan "udah kuliah di mana?" sebagai doa dan sama sekali tidak keberatan dengan pertanyaan serupa itu. Ah, damai dan nyaman sekali rasanya ^^

Hingga pada akhirnya, pada 3 Juli 2018, aku diterima di kampus dan jurusan impian. Harapan yang timbul 1 tahun lalu, lalu kutulis di brosur Undip yang kudapat dari teman yang ikut festival kampus. Harapan yang 6 bulan lalu kugambar di selembar kertas saat acara festival kampus di SMA-ku.

Aku tidak boleh lantas berpuas diri dan riya. Karena ini baru awal dari perjalanan menuju masa depanku.

Jangan riya. Itu menyakitkan. Masih banyak teman-teman kita yang ingin merasakan bangku perguruan tinggi atau sekolah akademi, tapi tidak atau belum bisa.

Aku tidak bermaksud memaksa atau mendesak sama sekali. Hanya ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.

Inti dari postingan ini adalah ... Jangan selalu berburuk sangka pada kegagalan, sobat :)
Sungguh, ada hal indah menanti di depanmu dan akan kau dapatkan, bila kau sungguh-sungguh dalam menjemputnya :)
---

Sekilas tips dan pesan buat adik-adik kelas 12 :D


Meskipun UNBK udah kelar, eits jangan leha-leha dulu. Kalau ikut daftar SNMPTN, sebaiknya jangan terlalu ngarep. Karena sesungguhnya nggak ada yang tahu betul gimana proses seleksi SNMPTN yang sebenarnya, kecuali Allah dan si para panitia khusus.

Mending kalau berniat kuliah, abis UNBK sambil nunggu pengumuman SNMPTN, usaha buat SBM aja. Jadi, kalau gagal di SNM, udah ada bekal perang sama SBM. 

Nggak keteteran pula ngejar materi.
Karena kalau terlalu berharap sama SNM, nanti terlena, dan yaaah .... mubadzir deh.

Kalau bener-bener niat nih, ya, belajar SBM dari awal kelas 12, kalau nggak dari kelas 11. Ditekunin sedikit-sedikit, diniatin. Niscaya, Allah akan memberi keputusan yang terbaik dan yang diharapkan.
Semangat!

---

Sekian edisi Suka Duka Ditolak SNMPTN. Semoga bermanfaat bagi sobat. Terima kasih sudah menyimak. Mohon maaf bila ada kesalahan, mimin masih manusia :')

No comments:

Post a Comment