Suka Duka Penerima Bidikmisi #2

Setelah dalam postingan sebelumnya kita sudah mengulas sedikit tentang suka dari penerima bidikmisi. Nah, sekarang saatnya kita coba bahas duka bagi para penerima bidikmisi. Emangnya ada dukanya? 

Sekali lagi saya jelaskan, ini adalah opini saya secara pribadi. Jika memang menurut sobat pandangan saya keliru, saya sangat menanti kritik sobat di kolom komentar. Baik, langsung saja kita masuk ke poin yang akan kita bahas.



1. Ketidakpastian Tanggal Cairnya Uang Bidikmisi

Wah, ini nih yang selalu jadi bahasan ramai di setiap grup mahasiswa bidikmisi. Mulai banyak mahasiswa "kosmania" yang ribut menanyakan kapan cair. Ada pula mahasiswa iseng yang malah membagikan jarkoman cairnya uang bidikmisi namun ternyata itu jarkoman yang sudah lampau. 

Alhasil, ada beberapa mahasiswa gugup yang menjadi korban karena telah datang ke ATM untuk menarik uang tunai dan ternyata saldo mereka masih zonk. Betapa indahnya grup kita bukan?

Saya yakin, pemerintah sudah berupaya maksimal untuk membuat suatu sistem penerimaan uang bidikmisi berjalan mulus. Namun sayangnya, belum ada kepastian terkait kapan batas akhir mahasiswa menanti datangnya kabar baik tersebut. 

Dari yang semula ada kabar burung di awal bulan akan cair, namun hingga saat ini ketika memang dompet sudah berlalat pun belum cair juga. Bahkan ada yang mengatakan bahwa cairnya akhir bulan. Sabar. Tapi tentu ketika ada suatu kejelasan atas sistem yang berjalan itu akan jauh lebih baik bukan? 

Ya walaupun memang terkadang yang membuat lama proses pencairan itu ulah kita sendiri. Dari yang malas mengumpulkan KHS sampai yang sama sekali tiada kabar masih hidup ataukah tidak. Itulah pentingnya kesadaran dan keselarasan.


2. Kerap Merasa Tidak Adil

Bukan masalah mengenai bagaimana pemerintah yang sudah dengan sedemikian rupa menyeleksi siapa saja yang pantas atau tidak pantas untuk mendapat predikat miskin di negeri ini. Namun, mengapa moral sebagian manusia yang juga saudara kita malah menginginkan suatu kemiskinan?

Ketika label bidikmisi melekat pada dirimu, bukankah itu tanda untukmu dari negeri ini bahwa kamu adalah utusan dari si miskin yang dipelihara oleh negara? Namun, mengapa masih banyak yang rela mengaku untuk menjadi si miskin padahal otak dan nurani mereka pun sudah kedinginan oleh AC mobil pribadi dalam kesehariannya?

Sesungguhnya tiada menjadi masalah ketika taraf hidup mahasiswa yang berusaha dipelihara oleh negara itu menjadi sejahtera. Bukankah itu yang diinginkan? Sangat wajar jika mungkin mahasiswa bisa mengembangkan dana bantuan yang ia dapat ketika sudah menginjak semester tua. 

Ketika mereka sudah bisa menabung dan menyisihkan dana yang mereka peroleh agar bisa menikmati gemerlapnya modernisasi. Teramat wajar. Namun, apakah masuk dalam nalar jika ada mahasiswa baru yang menjadi bagian dari mahasiswa bidikmisi namun bermobil dalam kuliahnya? 

Jika itu yang dinamakan miskin, lalu sebutan apa yang pantas untuk saya dan kawan-kawan lain yang kuliah dengan berjalan kaki?

Memang tak bisa dipungkiri masih banyak celah untuk sistem yang diusung pemerintah dalam menyeleksi penerima bidikmisi. Menurut saya, mungkin lebih bijak jika dana bantuan ditambah namun kuota penerima bidikmisi dikurangi. 

Cari yang memang benar-benar membutuhkan. Saya yakin, masih banyak yang lebih membutuhkan dan jauh lebih berhak menerima bidikmisi dari beberapa orang yang bahkan untuk kuliah dengan uang sendiri pun teramat mampu.

Pemerintah sebenarnya sudah berusaha untuk menutup celah tersebut. Dengan apa? Kita tengok dulu di laman resmi Bidikmisi.

LAPOR BIDIKMISI!

Kami menyediakan fitur lapor mahasiswa yang tidak layak mendapatkan bantuan biaya pendidikan bidikmisi.
Diharapkan dengan adanya fitur ini masyarakat dapat ikut berperan aktif dalam menyukseskan program bidikmisi.
LAPORKAN MAHASISWA TIDAK LAYAK BIDIKMISI
Identitas pelapor akan dilindungi dan tidak akan ditampilkan

Jika sobat geser layar sobat ke bawah tentu akan mendapatkan hal tersebut bukan? Langkah yang sangat baik dari pemerintah. Namun, ketika saya check  tepat pada hari ini Minggu, 16 September 2018 Pukul 15:53 WIB, laman tersebut tidak berfungsi. Mari kita berpikiran positif. Mungkin sedang diperbaiki. Ini halamannya :




Ya, sudah saya sampaikan dari awal. Bahwa menurut hemat saya masih banyak celah dalam hal sistem bidikmisi itu sendiri. Walaupun sekali lagi pemerintah memang patut diapresiasi dalam menjalankan kewajibannya mencerdaskan bangsa ini dari semua golongan.

Harapan saya, semoga website bidikmisi dapat cepat mendapatkan penanganan dan sistem yang diterapkan dapat benar-benar memberikan kesejahteraan yang nyata.


3. Yakinkah Uang Sebanyak Itu Dapat Memenuhi Kebutuhan Kuliah?

Saran saya, jika memang sobat punya tekad yang kuat untuk kuliah namun orangtua sama sekali tidak bisa membiayai kuliah sobat, menabunglah sejak lama. Menabunglah sejak sekarang. Jika hanya benar-benar mengandalkan uang bidikmisi untuk hidup seperti mahasiswa pada umumnya saya rasa sangat sulit. 

Apalagi kalau sobat adalah seseorang yang suka dalam hal berorganisasi. Sedikit-dikit kas, uang kontrib, uang survey, makan, rapat panitia, dan berbagai macam lainnya. Jawabannya sudah pasti. Belum cukup.

Ada kalanya beberapa dosen memberikan referensi buku yang sebaiknya dibeli oleh mahasiswa untuk menunjang perkuliahan. Jika memang uang sisa untuk bayar kos dalam sebulan saja Rp 150.00 - Rp. 250.000 apakah cukup? Itu belum dipotong uang ketika sobat sakit dan berorganisasi.

Jika memang sama sekali tidak ada uang kiriman dari orangtua, entah itu karena sobat sudah tidak memiliki orangtua, rumah tangga yang pupus, atau memang karena orangtua sobat tidak mampu, jangan memaksakan dirimu sobat. 

Mulailah menabung sedini mungkin. Bagi waktumu untuk mencoba kerja part time. Yang penting sobat tidak mengemis. Jangan terbuai dalam berorganisasi, walaupun saya meyakini itu adalah hal yang sangat berguna bagi mahasiswa. Imbangi dengan mencari pendapatan sebisa mungkin ya sobat. Kalian tidak sendirian. Semangat!


Karena sudah mulai panjang tulisan ini, mungkin untuk saat ini saya baru bisa menyampaikan sedikit opini saya tentang dunia perbidikmisian. Mungkin di lain waktu kita bisa berdiskusi lagi mengenai bidikmisi lebih dalam. 

Bagi para pejuang bidikmisi yang masih menunggu kabar baik dari langit, yang sabar ya. Kas bon dulu sama burjo atau tukang sayur terdekat ya sobat. Walaupun perut melilit, namun kita harus tetap spirit ! Semangat dan sukses selalu!


Yang belum baca part #1, silakan bisa sobat baca di sini : Suka Duka Penerima Bidikmisi #1
---
Sumber Artikel : Opini Penulis

4 Responses to "Suka Duka Penerima Bidikmisi #2"

  1. Mungkin perlu diperinci. Melarat, setengah miskin, agak miskin, miskin sekali, sangat miskin sampai cukup kaya mengaku miskin. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha biar pembaca yang menginterpretasikan saja mas. Kalau saya terlalu detail, nanti dikira hiperbola kaya yang sudah-sudah hahaha.
      Terima kasih atas kunjungannya bosku. Jika berkenan, satu klik saja pada iklan di bawah ya :)

      Delete