Sendunya Tembalang

Malam ini mendung. Cerah tidak, hujan pun tak mau. Pernahkah kalian merasakan hal tersebut? Entah itu dalam porsi cuaca maupun niat dalam menjalani hidup. Terlampau banyak kegiatan yang sebenarnya bisa kita lewati di setiap jalannya hari. Namun sayang, nanggung itu lah yang membuat semuanya serba susah. Susah untuk berpindah. Jangankan berpindah, menentukan iya atau tidak pun susah.



Karena kebetulan saya sedang ditemani oleh segelas kopi, bagaimana jika kita membahas tentang Tembalang malam ini dengan menggandeng kopi itu sendiri. Menarik, terdengar kabar bahwa ada kopi yang mudah terbakar. Tentu kawan sudah pernah membaca atau melihat beritanya di mana - mana kan? Lalu mengapa hal itu santer terdengar sekarang? Bukankah sudah lama kopi tersebut beredar?

Suatu hal yang menarik. Kawan kita, masyarakat, yang mana kita adalah bagian di dalamnya, sudah mulai suka hal yang sepeti itu. Jangankan kopi, untuk diskusi secara sehat tentang siapa calon presiden yang pantas menang pun sangat tak menarik sama sekali.

Kita cenderung mencari kelemahan atau kejelekan dari oposisi pilihan hati tanpa tahu bahwa sang pilihan hati pun sebenarnya tidak punya solusi akan masalah tersebut. Hanya satu hal yang pasti dan diyakini.

Yang penting menang dulu, jabat dulu. Urusan sistem belakangan. Politik negeri saja selucu itu apalagi politik kampus? Perlu dibahas? Ah, sayang sekali, tulisan ini kan berjudul Sendunya Tembalang. Bukan "Panasnya Tembalang".

Sendu, biasanya sangat dekat dengan rindu. Kamu termasuk manusia yang mudah merindu kah?

Rindu apa saja. Bukan hanya terbatas pada pasangan. Rindu Tuhan? Rindu kampung halaman? Atau mungkin rindu dengan diri sendiri. Rindu diri sendiri yang benar-benar menjadi diri sendiri. Diri yang merdeka seutuhnya dan menikmati hidup dengan segala kebebasan dan prosesnya. Sudah berapa jauh dirimu jalan kaki hari ini?

Sendu sekali ya. Mengenal pribadi sendiri saja teramat sulit rasanya. Bagaimana ingin mengenal sendunya Tembalang? Yang sangat kompleks dengan hal unik di dalamnya. Jika kita tarik kembali, sama seperti kopi tadi. Sarat akan makna.

Bukan tentang "patut" atau tidaknya suatu kopi di minum. Namun, kondisi seperti apa yang bisa menjadikan kita meminum hal tersebut. Iya, jika kopi yang kita minum kopi yang tak berampas. Jika berampas? Bukankah akan semakin nikmat jika diminum ketika sang ampas sudah mengendap?

Untuk yang terakhir kalinya, saya hanya berpesan kepada kalian yang mungkin tidak sengaja membaca tulisan saya ini. Jangan terkungkung pada situasi sendu itu sendiri. Jangan biarkan dirimu meresapi bahwa sendu itu hal yang buruk, yang negatif. Tak selalu.

Nikmatilah sendu itu, jalanilah sendu itu. Tentu kau kan mendapatkan panasnya, bukan abunya. Sekian dan terima kasih.



0 Response to "Sendunya Tembalang"