Sabtu, 08 Februari 2020

Tabir Gelap Piala Dunia 1998 dan Konspirasi Hilangnya Ronaldo di Laga Final



Kali ini Pancarobaku ingin membahas sedikit cerita mengenai misteri yang ada di Piala Dunia 1998. Semoga sedikit informasi ini dapat membuatmu menjadi lebih tahu akan fenomena yang ada pada saat itu ya. Mari kita membedah sejarah secara menyenangkan. Selamat menikmati!

Tahun 1998 atau tepat setelah 60 tahun lamanya, piala dunia kembali ke tanah kelahirannya yaitu Perancis. Di gelaran kala itu, FIFA kembali membuat beberapa kebijakan baru. Kebijakan yang pertama adalah tentang jumlah peserta Piala Dunia dari 24 negara menjadi 32 negara. Hal ini membuat hadirnya beberapa negara debutan yang berlaga seperti Kroasia, Jamaika dan Jepang.

Selain itu, FIFA juga memberlakukan sistem Golden Ball pada fase gugur.  Sistem ini berbeda dengan sistem yang sebelumnya karena jika dalam waktu normal skor berakhir dengan imbang, maka kesebelasan yang mencetak goal pada perpanjangan waktu akan menjadi pemenang di laga tersebut.

Piala Dunia 1998 tak pernah berhenti menjadi perbincangan. Gelaran akbar yang menjadikan Perancis sebagai tuan rumah itu akan selalu diingat menjadi satu yang paling membekas, penuh sejarah dan kenangan. Bahkan banyak yang mengatakan kalau terdapat kejanggalan dan misteri yang sulit dipecahkan.

Selain itu, Piala Dunia 1998 juga turut menyajikan berbagai cerita menarik sejak babak penyisihan. Brazil kalah dari Norwegia. Begitu juga Inggris yang tiba-tiba tumbang dari Rumania. Ada pula kejutan yang lahir dari Kroasia.  Kroasia hanya butuh 5 tahun untuk merasakan turnamen internasional pertama mereka yaitu Piala Eropa 1996. Di usianya yang ketujuh mereka secara mengejutkan lolos ke piala dunia.



Di gelaran Perancis 1998, Kroasia disebut-sebut sebagai underdog terbaik sepanjang sejarah piala dunia. Striker mereka Davor Suker yang mengakhiri turnamen sebagai top scorer dengan perolehan 6 goal.  Mereka bahkan meraih kemenangan lebih banyak daripada Brazil yang meraih posisi kedua.

Akan tetapi semua cerita ini tidak terlalu menarik ketika melihat apa yang terjadi di laga puncak. Partai pamungkas yang mempertemukan tuan rumah Perancis dan juara bertahan Brazil memunculkan banyak momen tak terduga. Salah satunya adalah hilangnya Ronaldo Luís Nazário de Lima di laga tersebut.

Di usianya yang baru 22 tahun Ronaldo sudah mengantongi 2 gelar pemain terbaik dunia dan 1 gelar ballon d'or. Prestasinya diprediksi akan semakin genap jika  Ronaldo mampu memboyong Piala Emas di gelaran Piala Dunia 1998 dan menjadikan negaranya sebagai pemenang untuk yang kelima kalinya dari turnamen akbar empat tahunan tersebut.

Empat tahun sebelumnya, Ronaldo sebenarnya sudah merasakan trofi Piala Dunia, namun ia tidak bermain semenit pun. Barulah pada 1998 ia menjadi pilihan utama di lini depan skuat asuhan Mário Zagallo. Di turnamen tersebut Ronaldo benar-benar menjadi bintang. Meski hanya mencetak satu goal di fase grup, Ronaldo menggila di fase gugur. Ia mencetak 2 goal kala Brazil menghajar Chile dan mencetak 1 goal penting bagi Tim Samba guna melepas hadangan dari Timnas Belanda.



Akan tetapi, sehari sebelum menghadapi Perancis di babak final kondisi Ronaldo berubah dari semula ceria menjadi pemurung. Dia lebih banyak diam di kamar. Wajahnya pucat terlihat seperti orang yang ketakutan. Menurut Leonardo,  Ronaldo mengalami sawan secara tiba-tiba menjelang tidur di hotel tim. Leonardo termasuk salah satu pemain yang ada pada saat kejadian jelang final Piala Dunia 1998 tersebut.

Seperti yang diketahui, hingga sekarang apa yang sebenarnya terjadi belum sepenuhnya diklarifikasi. Termasuk kenapa kemudian tim medis menganggap Ronaldo sehat dan mengizinkannya bermain.

"Ronaldo hendak tidur siang waktu itu, hari dimana pertandingan akan digelar, seperti juga kami. Ketika dia tidur, di situlah dia kejang-kejang. Roberto Carlos yang berada satu kamar dengannya kemudian berlari meminta pertolongan." Ucap Leonardo.



Seperti apa yang dikatakan Leonardo, Roberto Carlos menceritakan kalau Ronaldo mengalami kejang yang membuat seluruh pemain kawatir. Yang lebih mengerikannya lagi Edmundo mengatakan,

"Aku melihat tubuhnya bergetar kencang dan mulutnya sempat mengeluarkan busa. Aku melihat ia memukul kepalanya dan beberapa kali aku melihat lidahnya hampir tertelan."

Setelah dokter memeriksa Ronaldo, dokter mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang berbahaya. Ronaldo kemudian bangun pukul 5 sore dan masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Lalu, tim memustuskan memasang Edmundo yang dianggap lebih siap untuk bermain. Ketika Ronaldo terbangun dari tidurnya, seluruh official dan pemain Timnas Brazil memutuskan untuk tidak memberitahu Ronaldo apa yang terjadi. Saat skuat Timnas Brazil pergi ke Stade de France untuk menjalani laga final, Ronaldo justru dibawa ke Klinik Lilas di Paris.

Ketika itu rumor Ronaldo tidak akan bermain di final sudah beredar. Sementara Edmundo sudah di plot Zagallo untuk menjadi starter. Hingga tiba di hari final melawan Perancis, Mário Zagallo tidak mengajak anak asuhnya melakukan pemanasan di lapangan dan hanya melakukan peregangan di ruang ganti. Mereka takut mengecewakan pendukung Brazil jika menyadari ketiadaan Ronaldo di sesi pemanasan.



Dengan perasaan cemas dan tak tahu apa yang akan terjadi, skuat Brazil dikejutkan dengan permintaan Ronaldo kepada Zagallo untuk dimainkan. Sebelumnya Ronaldo yang dikabarkan bakal absen ternyata tiba di stadion 45 menit sebelum laga berlangsung.

Zagallo yang sempat tidak ingin memainkan Ronaldo pun berubah pikiran. Namun perubahan keputusannya itu berbuah pahit. Ronaldo tampil jauh dari harapan. Tidak bertenaga, tidak mampu berlari dan kehilangan gerak tipu yang menjadi andalannya. Di laga itu Brazil kalah 0-3 dari tuan rumah.



Mengomentari tentang keputusannya, Zagallo mengaku kalau ia tidak punya pilihan. Ia mengatakan lebih baik kalah dengan memainkan Ronaldo ketimbang harus dicaci publik karena tidak memainkan pemain terbaik di laga final. Hingga saat ini belum ada jawaban pasti tentang apa yang menimpa Ronaldo.

Di awal 2018 lalu, Ronaldo yang berbicara kepada 442 menjelaskan versi dirinya tentang apa yang menimpanya jelang final Piala Dunia 1998.

"Aku memutuskan beristirahat setelah makan siang. Terakhir yang aku ingat adalah aku pergi ke tempat tidur... Setelah itu aku kejang. Aku dikelilingi rekan-rekan pemain dan kemudian dokter Lidio Toledo datang. Mereka tak mengatakan apa yang terjadi. Aku kemudian meminta semuanya keluar dari kamar karena aku ingin tidur. Setelah itu Leonardo memintaku berjalan di taman hotel dan menjelaskan kepadaku apa yang terjadi. Dia bilang aku tak perlu bermain di final."



Namun lagi-lagi tetap saja jawaban Ronaldo tidak menjelaskan apapun. Imbasnya berbagai teori konspirasi bermunculan. Paling tidak ada lima teori konspirasi yang beredar soal apa yang menimpa Ronaldo. Mari kita simak satu persatu.

  1. Nike dan Federasi Sepakbola Brazil (CBF) memaksa Ronaldo bermain.
  2. Brazil dianggap menjual Piala Dunia. Dalam konspirasi ini disebutkan bahwa para pemain Brazil menerima suap 23 Juta Pounds atau setara dengan 407 Milyar Rupiah untuk mengalah. Brazil akan dijanjikan untuk menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 2006 dan akan lolos dengan mudah pada Piala Dunia 2002. Jika melepas laga kontra Perancis.
  3. Konspirasi tentang Ronaldo yang diracun. 
  4. Ronaldo memang berada dalam kondisi yang tidak sehat. Disebutkan bahwa Ronaldo sebenarnya memiliki masalah kesehatan. Kondisi yang sudah lama dirahasiakan oleh sang bintang. 
  5. Adanya pil biru. Dalam konspirasi ini disebutkan jika dokter sudah memberikan Ronaldo pil biru sebagai obat penghilang sakit. Namun obat itu memiliki efek seperti obat bius.
Pada edisi Piala Dunia berikutnya atau tepat pada tahun 2002, Ronaldo berhasil mengantarkan Brazil menjuarai Piala Dunia 2002 di Jepang. Namun jelang malam final melawan Jerman ia mengaku tidak bisa tidur. Ronaldo mengaku trauma dengan kejadian yang dialaminya jelang final Piala Dunia 1998 di Perancis.



Walaupun begitu, kurang tidur tak membuat Ronaldo tampil buruk. Ia berhasil mencetak dua goal di final dan mengantarkan gelar juara dunia kelima bagi negaranya. Laga final 2002 seolah menjadi pembalasan termanis Ronaldo terhadap apa yang telah menimpanya di gelaran Piala Dunia 1998.

Lantas bagaimana dengan pendapatmu? Apa yang terjadi dengan Ronaldo sesungguhnya?

Demikian sekilas informasi mengenai misteri hilangnya Ronaldo di laga puncak Piala Dunia 1998. Semoga apa yang kami sajikan dapat menambah wawasanmu ya. Jangan lupa kunjungi Starting Eleven di youtube. Karena tulisan ini terinspirasi dari mereka dengan sedikit perubahan sesuai gaya penulisan dari pengurus. Terima kasih sudah berkunjung dan salam olahraga!


___________________
Sumber:
Starting Eleven

0 komentar

Posting Komentar