Pancarobaku

Literasi Tak Akan Mati

Terima kasih atas 1.500.000 kunjungan darimu, sobat. Pancarobaku resmi kami tutup. Mari pindah mari berbenah. Kita buka lembaran baru di www.pustakaindo.com

Copyright © Pancarobaku | Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger
Design by WebSuccessAgency | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com

Visitor

Senin, 27 April 2020

Pulang Asing




Sudah lama rasanya aku tak menulis dalam blog yang kian usang ini. Selama itu pula tiada interaksi yang terbangun antara kamu dan aku. Jika lama tak bersua, umumnya akan muncul berbagai macam pertanyaan. Pertanyaanku kali ini semoga dapat membuatmu berdansa, kasih. 

Apakah sekarang kamu sedang berada di luar rumah? Jika benar begitu, sampai kapan kamu berada di sana? Pulang.

Aku tahu perasaanmu. Pulang memang tak pernah semengerikan ini. Terasa penuh tekanan yang entah darimana asalnya. Seakan terkurung dalam ketakutan dan kecemasan. Cap hitam seketika terpampang di mukamu. Ya, tepat di muka. Apapun skincare yang kamu gunakan nampaknya tak akan berpengaruh.

Cap itu tak memandang fisikmu. Cap itu tak memandang hartamu. Cap yang seakan berteriak bahwa kamu lah biang keladi kehancuran itu. Lantas, apakah cap ini yang membuatmu takut untuk pulang?

Seantero negeri memang sedang dilanda curiga. Semua orang dapat menjadi biang keladinya. Tak terkecuali aku dan kamu. Berkat kecurigaan itu pula untuk saat ini pulang menjadi pilihan yang sulit. Tamparan manis bagi kita yang memang tak pernah menyempatkan diri untuk pulang. Sekalinya pulang, bagaikan tinja bernyawa yang tak diinginkan oleh siapapun. Semua manusia sepakat bahwa kita adalah makhluk yang menjijikan, kecuali oleh dirinya, satu.

Mungkin ini yang membuatmu enggan pulang. Betapa beruntungnya diriku karena masih ada satu yang menerimaku. Orang yang memang mengenalku dan mengerti segala hal yang ada dalam diriku. Orang yang tulus untuk memahami walau seringkali diriku menyakiti. Dan mungkin dirimu takut, jika satu yang kamu punya bisa saja menderita dengan adanya kehadiranmu.

Sungguh aku pun begitu.

Cacian dan makian memang pantas kita dapatkan jika kita memilih untuk pulang. Tanpa peduli bagaimana keadaan kita di luar sana. Seakan terpampang dengan jelas sebelum kita masuk ke dalam gerbang rumah.

“Membusuk di luar sana akan lebih baik daripada bernyawa namun membawa kecemasan di dalam sini. Jika bisa, enyahlah dan jangan pulang!”

Sebuah sambutan yang sangat baik bukan? Keramahan dan ketulusan seakan sirna begitu saja. Satu hal yang perlu dimengerti. Kalian tidak akan mengerti.

Sekarang, diriku mulai sangsi untuk mengajakmu kembali. Pulang bukan menjadi pilihan yang bijak. Tahukah kamu, jika saja diriku dan satu kesayanganku sudah menjalankan semuanya sesuai dengan prosedur yang berlaku. Memasung diri dan menjadi patung setiap hari. Semuanya tak akan berguna.

Jika ternyata ada sepercik kehancuran di sini, semua mata akan tertuju padaku. Akulah biang keladinya entah apapun itu masalahnya. Naskah komedi yang sangat menggelikan bukan? Aku sudah siap untuk itu semua. Dan oleh karena itu aku memilih untuk pulang. Lawanku hanya curiga.

Curiga memang tak mengenal siapa. Entah itu saudara, keluarga, kasih, sahabat atau bahkan dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan diri sendiri memang menjadi pilihan yang baik kali ini. Entah dirimu ada di luar sana maupun sudah berada di dalam rumah. Berdamailah dengan diri sendiri.

Apapun pilihan yang kamu ambil aku yakin kamu sudah siap untuk menanggung risikonya. Semangat karena ada aku yang senantiasa di sini menjadi salah satu bagian yang tetap mendukungmu walau cap persetan itu menempel jelas di mukamu. Aku akan mendukungmu bagaimanapun kondisimu. Kuatlah, karena kuyakin kita dapat bersua kembali dengan kopi hangat dan kicauan burung yang sama seperti dulu.


Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 27 April 2020

0 komentar

Posting Komentar