Pancarobaku

Literasi Tak Akan Mati

Terima kasih atas 1.500.000 kunjungan darimu, sobat. Pancarobaku resmi kami tutup. Mari pindah mari berbenah. Kita buka lembaran baru di www.pustakaindo.com

Copyright © Pancarobaku | Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger
Design by WebSuccessAgency | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com

Visitor

Jumat, 01 Mei 2020

Hari Normal

Suatu Kenormalan di Waktu Itu


Tak pernah kurasakan malam sesunyi ini. Jangankan malam, siang pun kulupa bagaimana kenormalannya. Kucoba putar beberapa lagu yang kiranya dapat mengusir sepi ini. Tempo yang cepat kuharap dapat sedikit memberi hentakan. Walau tak sepenuhnya kusuka, setidaknya untuk malam ini saja.

Tak ada perbedaan, hari ini masih sama seperti hari yang lain. Tiada gitar, buku dan ruang untuk bertemu. Seminggu yang melelahkan. Kosong.

Kepulan asap kian beradu seakan membawaku kepada semua hal yang terjadi hari ini. Kucingku masih sakit dan tampak kesulitan untuk melihat. Dia termenung seakan enggan untuk hidup lebih lama lagi. Setidaknya saat kutuliskan beberapa kata ini, dia masih asik terdiam di pangkuanku. Setidaknya untuk malam ini.

Ada berita lain di luar sana yang sama sekali tak ingin kudengar. Banyak orang baik yang kehilangan pekerjaannya. Banyak Ibu yang mungkin kebingungan menentukan menu untuk keluarganya. Dan masih banyak pula kawan dalam perantauan yang kesulitan mencari makan untuk sahur karena akses jalan yang tetap ditutup oleh portal. Semua diam. Semua sunyi. Semua menyendiri.

Semua tampak klise. Di satu sisi ada gadis yang sedang dirundung kasmaran. Namun, ada gadis lain yang berusaha keras untuk melupakan. Semua saling berlomba memberikan pesan untuk orang lain.
Walau kadang mereka tak sadar bahwa itu semua layak untuk diacuhkan. 

Ya, setidaknya diriku menjadi orang pertama yang akan mengacuhkannya.

Banyak pejantan yang berusaha memutar otak. Mencari cara agar tidak mati dalam kesunyian. Kesunyian dalam karya, rasa maupun harta. Kata jantan mungkin terdengar tidak pas untuk disematkan pada insan. Namun kuakui bahwa mereka sangat jantan dalam menghadapi keadaan maupun kenyataan. Merambah hal yang tak pernah disentuhnya. Menggali hal yang menjadi zona nyamannya. Sementara aku hanya berkutat dengan tulisan yang kuselipi dengan segudang waktu untuk bermain.

Permainan dalam arti sesungguhnya. Bermain.

Hanya blog ini yang kuisi dari sekian banyak blog dengan tema lain yang kumiliki. Seakan tiada target karena untuk saat ini aku akan menulis jika ingin sedang menulis saja. Persetan dengan suatu hal yang tak berbobot. Jika dari hati, mungkin hati lain akan merasakannya. Aku tak peduli lagi dengan kejayaan blogku di masa lalu. Angka hanyalah angka.

Bagiku jika aku bisa menulis suatu hal yang menjadi pandanganku, tanpa mengacu pada aturan yang entah siapapun menciptakannya, itu adalah suatu kedamaian. Perkara kalian menikmatinya atau tidak, itu hanyalah pilihan kalian. Dan pilihanku adalah untuk berbagi.

Semua memang sedang tidak normal. Dan semoga segala ketidaknormalan ini tidak menjadi suatu kenormalan di masa yang akan datang.

Selasa, 28 April 2020

Api Kita Semua

(Sumber Foto: Rachmat Agung Pambudi)
Api Kita Semua

Matilah hidup yang hidup mati
Hiduplah mati yang mati hidup
Semua hanya perkara tempat
Kata yang serupa tak memengaruhinya

Tualah muda yang muda tua
Mudalah tua yang tua muda
Semua hanya perkara suara
Mengisi ruang dengan lantangnya

Sering kali mati dan ada kalanya hidup
Senantiasa muda meski terlihat tua
Tumbuh membaur tak kenal padam
Merayap pelan membawa pesan

Dirinya akan terus menggema
Menembus segala era yang menantangnya
Tak segan hadir dalam derap langkah sena
Terlukis pula dalam perjuangan mahasiswa

Romansa pilu duka kebosanan
Unsur utama yang kerap jadi alasan
Terus mekar seiring adanya pesan
Kian bersemi dalam pahitnya keadaan

Meski dalam sulit, hadirnya tetap ada
Karena puisi adalah kita


Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 28 April 2020
__________________


Selamat Hari Puisi Nasional. Semoga senantiasa minat akan puisi dapat tumbuh subur di Indonesia. Muncul lebih banyak lagi lomba cipta puisi maupun baca puisi. Jika menang, lumayan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Terima kasih juga untuk Mas Rachmat Agung Pambudi. Berkat fotonya yang telah menginspirasi. Membuatku bergairah untuk menulis kali ini. Namun, aku tak tahu awal mula ini terjadi. Sekarang semuanya malah berakhiran huruf I. Mungkin takdir Illahi.

Mari berpuisi dan panjang umur literasi!

Senin, 27 April 2020

Pulang Asing




Sudah lama rasanya aku tak menulis dalam blog yang kian usang ini. Selama itu pula tiada interaksi yang terbangun antara kamu dan aku. Jika lama tak bersua, umumnya akan muncul berbagai macam pertanyaan. Pertanyaanku kali ini semoga dapat membuatmu berdansa, kasih. 

Apakah sekarang kamu sedang berada di luar rumah? Jika benar begitu, sampai kapan kamu berada di sana? Pulang.

Aku tahu perasaanmu. Pulang memang tak pernah semengerikan ini. Terasa penuh tekanan yang entah darimana asalnya. Seakan terkurung dalam ketakutan dan kecemasan. Cap hitam seketika terpampang di mukamu. Ya, tepat di muka. Apapun skincare yang kamu gunakan nampaknya tak akan berpengaruh.

Cap itu tak memandang fisikmu. Cap itu tak memandang hartamu. Cap yang seakan berteriak bahwa kamu lah biang keladi kehancuran itu. Lantas, apakah cap ini yang membuatmu takut untuk pulang?

Seantero negeri memang sedang dilanda curiga. Semua orang dapat menjadi biang keladinya. Tak terkecuali aku dan kamu. Berkat kecurigaan itu pula untuk saat ini pulang menjadi pilihan yang sulit. Tamparan manis bagi kita yang memang tak pernah menyempatkan diri untuk pulang. Sekalinya pulang, bagaikan tinja bernyawa yang tak diinginkan oleh siapapun. Semua manusia sepakat bahwa kita adalah makhluk yang menjijikan, kecuali oleh dirinya, satu.

Mungkin ini yang membuatmu enggan pulang. Betapa beruntungnya diriku karena masih ada satu yang menerimaku. Orang yang memang mengenalku dan mengerti segala hal yang ada dalam diriku. Orang yang tulus untuk memahami walau seringkali diriku menyakiti. Dan mungkin dirimu takut, jika satu yang kamu punya bisa saja menderita dengan adanya kehadiranmu.

Sungguh aku pun begitu.

Cacian dan makian memang pantas kita dapatkan jika kita memilih untuk pulang. Tanpa peduli bagaimana keadaan kita di luar sana. Seakan terpampang dengan jelas sebelum kita masuk ke dalam gerbang rumah.

“Membusuk di luar sana akan lebih baik daripada bernyawa namun membawa kecemasan di dalam sini. Jika bisa, enyahlah dan jangan pulang!”

Sebuah sambutan yang sangat baik bukan? Keramahan dan ketulusan seakan sirna begitu saja. Satu hal yang perlu dimengerti. Kalian tidak akan mengerti.

Sekarang, diriku mulai sangsi untuk mengajakmu kembali. Pulang bukan menjadi pilihan yang bijak. Tahukah kamu, jika saja diriku dan satu kesayanganku sudah menjalankan semuanya sesuai dengan prosedur yang berlaku. Memasung diri dan menjadi patung setiap hari. Semuanya tak akan berguna.

Jika ternyata ada sepercik kehancuran di sini, semua mata akan tertuju padaku. Akulah biang keladinya entah apapun itu masalahnya. Naskah komedi yang sangat menggelikan bukan? Aku sudah siap untuk itu semua. Dan oleh karena itu aku memilih untuk pulang. Lawanku hanya curiga.

Curiga memang tak mengenal siapa. Entah itu saudara, keluarga, kasih, sahabat atau bahkan dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan diri sendiri memang menjadi pilihan yang baik kali ini. Entah dirimu ada di luar sana maupun sudah berada di dalam rumah. Berdamailah dengan diri sendiri.

Apapun pilihan yang kamu ambil aku yakin kamu sudah siap untuk menanggung risikonya. Semangat karena ada aku yang senantiasa di sini menjadi salah satu bagian yang tetap mendukungmu walau cap persetan itu menempel jelas di mukamu. Aku akan mendukungmu bagaimanapun kondisimu. Kuatlah, karena kuyakin kita dapat bersua kembali dengan kopi hangat dan kicauan burung yang sama seperti dulu.


Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 27 April 2020

Selasa, 24 Maret 2020

Setangkai Mawar Dini Hari



Bersama gitar ini kualunkan senandung bait tentang hitamnya dunia. Tak terasa lintasan waktu kian pudar dan terus membiru. Dini hari yang tak pernah kuinginkan sama sekali. Terkutuklah segala senyap yang menenangkan diri. Hinalah mereka yang lelap membatu ketika mawarku tumbuh tak kenal jemu. Durjana.

Mawarku kian meranum. Semerbak wanginya penuhi seluruh sudut kamar tidurku. Mawar terindah yang tak bisa kau dapatkan dimana pun juga. Mawarku yang merah. Mawarku yang manis.

Percayalah kawan, tak akan bisa kau ambil mawar ini dariku. Akarnya hanya akan tumbuh pada tiap petikan gitarku. Daunnya kian merekah saat terpapar rangkaian kata yang keluar dari mulutku.

Seperti mawar lain yang ada di dunia, mawarku kaya akan duri. Dia tak hanya memberi luka, namun kerap kali menyengat jika kau dekati. Mawarku yang manis. Mawarku yang indah.

Tepat pada hari ini. Saat dini hari tiba, entah mengapa mawarku kian mempesona. Saat dimana kesunyian membaur dengan kepahitan dan busuknya sebuah cita. Seakan bumi tengah terlelap dengan segala harapannya. Mawarku kian merona. Tumbuh subur oleh rangkaian sumpah serapah yang sarat akan keputusasaan. Mawarku tampak lebih indah dari biasanya.

Dini hari kali ini memanglah berbeda. Kepulan asap nampak beradu. Lengkingan nada kian mendaki. Dini hari sebelumnya tak pernah kutemui mawarku seperti ini. Apakah mungkin rangkaian kata yang terucap dan lengkingan nada yang bergema mempengaruhinya?

Mawarku berevolusi dengan segala elegi yang menyertainya. Rangkaian kata manis penuh harapan yang kupupuk tiap hari nampaknya tak cukup ampuh untuk membuatnya sesubur dan semerah ini. Merah kental yang tak pernah kulihat sebelumnya terpampang jelas di depan mataku. Begitu indahnya. Begitu manisnya.

Kuurungkan segala niat untuk memberikan mawar ini kepada siapapun. Termasuk kepada dia yang telah memberikan bibit mawar ini sekalipun. Dia yang telah memberikan secercah alasan kepadaku untuk merawat mawar ini sepanjang waktu. Sirnalah semua. Tak akan kuberikan padanya.

Cukuplah diriku yang menikmatinya. Mawar yang penuh dengan kebencian dan dibaluti duri keputusasaan. Mawar yang kuoles dengan alunan rasa sesal yang tiada satu orang pun dapat membayangkannya. Tak sudi kuberbagi atasnya.

Lagi pula, tak ada orang lain yang dapat merawatnya. Mawar itu akan menjadi sumber bencana yang dengan sekejap mata dapat merusak seluruh organ tubuhmu secara berkala. Matamu akan terus menangis tak kuat menahan kilaunya. Peluhmu akan mengucur deras karena tak sanggup menerima semerbak wanginya. Dan pada puncaknya, ragamu akan membatu saat menerima sengatan durinya.

Mawarku yang sendu. Mawarku yang lucu. Ingin rasanya kunikmati tiap jengkal pesona dan ranumnya mawarku itu tanpa adanya lagi sekat. Kucari cara agar dirinya tak terpaut oleh ruang dan waktu. Kubongkar kembali berbagai perkakas aneh yang telah kupendam lama di gudang rumahku. Kotak kaca yang kusimpan selama ini nampaknya cocok untuk mawar kesayanganku.

"Segala hal yang ada di dalam kotak kaca ini akan tetap abadi."

Tak masuk akal bukan? Setidaknya saat ini kupercaya pada tulisan kecil yang terpampang jelas pada kotak kaca itu. Kotak kaca usang yang sejak lama kusimpan untuk sebuah hal terindah yang ada dalam hidupku. Ku ingin mawarku abadi. Ku ingin menikmatinya tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan, hukum alam pun tak sanggup menyentuhnya. Mawar merahku yang manis. Mawar merahku yang abadi.

Kusimpan mawar merahku dalam kotak kaca yang usang itu. Kutempatkan pada sudut terbaik kamar tidurku. Dan tak terasa, segala keputusasaan ini cukup melelahkan ragaku. Kupandangi mawar merahku yang ranum itu dengan tatapan lembut yang tak pernah kuberikan pada siapapun.

Dini hari mulai berganti. Sang fajar mulai menampakkan jati diri. Lambat laun kesunyian kian menghilang. Tubuhku kian melayu seiring datangnya keramaian. Pandanganku mulai meredup. Hitam mendominasi. Rasa kaku mulai merajai. Kaki dan tangan rasanya sudah tak lagi kumiliki. Gelap.

Namun, mawarku tetap dapat kubayangkan. Mawar yang hanya tercipta untuk diriku seorang. Mawarku yang merah. Mawarku yang indah. Abadi.


Ruli Rukmana Sakti
Tembalang, 24 Maret 2020

Sabtu, 07 Maret 2020

Cerita Anak - Keledai dan Garam Muatannya



Selamat dini hari sobat Pancarobaku. Kali ini kami ingin berbagi cerita anak kembali untukmu. Semoga kamu senantiasa dapat bernostalgia kembali dengan cerita yang kami sampaikan. Selamat menikmati!

Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut.

Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai.

Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.

Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri.

Tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Cara yang sama tidak cocok digunakan untuk segala situasi.

Demikian sedikit cerita anak yang dapat kami sampaikan. Semoga kita bisa mengambil pesan yang terkandung di dalamnya. Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di cerita berikutnya!