Selasa, 25 Februari 2020

Cerita Anak - Dua Orang yang Memperebutkan Bayangan Keledai



Selamat malam sobat Pancarobaku. Kali ini kami akan membahas sebuah cerita anak kembali untukmu. Semoga kamu terhibur atau setidaknya bisa bernostalgia kembali dengan cerita ini ya. Selamat menikmati!

Seorang pengembara menyewa seekor keledai untuk membawanya ke suatu tempat yang jauh. Pemilik keledai itu juga ikut pergi beserta pengembara itu, berjalan di sampingnya untuk menuntun sang Keledai dan menunjukkan jalan.

Jalan menuju tempat yang di tuju adalah jalan yang tandus di mana tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di sepanjang jalan. Karena matahari bersinar sangat terik, pengembara itu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat, dan karena tidak ada tempat untuk berteduh dapat ditemukan di tempat itu, pengembara itu lalu duduk di bawah bayang-bayang sang Keledai.

Sekarang panas matahari juga telah mempengaruhi si pemilik keledai, sehingga pemilik keledai tersebut juga berharap untuk bisa beristirahat di bawah naungan bayangan sang Keledai, ia mulai bertengkar dengan pengembara dan mengatakan bahwa pengembara itu hanya menyewa keledainya, dan tidak termasuk bayangan dari sang Keledai.

Tidak lama kemudian, mereka saling berkelahi tanpa menyadari bahwa sang Keledai berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Demikian sebuah cerita singkat yang dapat kami sampaikan. Dari cerita tersibut kita dapat mendapatkan suatu pesan bahwa tak ada gunanya bertengkar. Karena bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak nyata, kita kadang kehilangan harta yang paling utama.

Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di cerita kami berikutnya!

Minggu, 23 Februari 2020

Cerita Anak - Ular yang Memberikan Emas



Selamat sore sobat Pancarobaku. Lama rasanya saya tidak menyapamu kembali. Kali ini kami akan membagikan kembali Cerita Anak yang mungkin dapat memberikan rasa nostalgia atau dapat kamu ceritakan ke saudara kecilmu. Selamat menikmati!

Dahulu kala di suatu tempat, hiduplah seorang petani miskin yang bernama Haridatta. Di suatu siang hari yang sangat panas, petani tersebut merasa sangat kepanasan dan berteduh di bawah bayang-bayang pepohonan untuk berbaring sejenak. Tak lama kemudian dilihatnya ular berbisa yang keluar dari bukit kecil di dekatnya. Saat itu dia berpkir, "Pasti ular ini adalah penjaga ladang ini."

Lantas petani tersebut segera pulang untuk mengambil sedikit susu dari rumahnya, menuangkan ke dalam mangkuk, dan menaruhnya dekat sarang ular tersebut sebagai ucapan rasa terima kasih, lalu petani itu berkata, "Wahai penjaga ladang ini, saya memberikan semangkuk susu ini sebagai ucapan terima kasih saya kepada anda!"

Keesokan pagi saat dia datang kembali ke ladang untuk bekerja, dia melihat mata uang emas di dalam mangkuk, dan sejak saat itu, setiap hari kejadian yang sama berulang terus: dia memberikan semangkuk susu ke ular tersebut dan setiap pagi dia selalu mendapatkan sebuah mata uang emas.

Suatu hari petani tersebut akan pergi ke desa sebelah selama beberapa hari dan untuk itu dia memerintahkan anaknya untuk menaruh semangkuk susu di depan sarang ular di ladang. Sang anak melakukan perintah ayahnya, membawa semangkuk susu, menaruhnya di depan sarang ular, lalu pulang ke rumah.

Keesokan paginya saat dia membawa semangkuk susu lagi, dia menemukan mata uang emas di mangkuk yang lama, dan sang Anak berpikir: "Sarang ular ini mungkin penuh dengan mata uang emas; Jika saya membunuh ularnya, saya dapat mengambil semuanya sekaligus untuk saya."

Besoknya, saat dia menaruh semangkuk susu di depan sarang ular, dia menunggu ular tersebut keluar, dan saat sang Ular keluar dari sarang, sang Anak memukul kepala ular tersebut dengan pentungan. Tetapi ular itu masih beruntung bisa lolos dari kematian dan dalam keadaan marah, mematuk sang Anak dengan giginya yang tajam dan berbisa sehingga sang Anak langsung meninggal. Orang-orang sekampung yang menemukan sang Anak yang telah meninggal mengubur anak tersebut dan memanggil sang Petani pulang.

Dua hari kemudian setelah sang Petani tiba di rumah dan mendapatkan penjelasan tentang kematian anaknya, sang Petani merasa sangat bersedih. Tetapi setelah beberapa hari, dia kembali mengambil semangkuk susu, menuju ke ladang, menaruh susu tersebut di depan sarang ular lalu memanggil sang Ular keluar dari sarang.

Setelah lama menanti, sang Ular akhirnya muncul dan berkata kepada sang Petani: "Keserakahan yang membawamu sekarang ke sini, keserakahan membuat kamu lupa akan kematian anakmu. Mulai saat sekarang, persahabatan antara kita takkan bisa terjalin lagi. Anakmu yang bodoh itu memukul saya dengan pentungan, dan Saya menggigitnya hingga meninggal. Bagaimana saya bisa melupakan pukulan dengan pentungannya? dan bagaimana kamu bisa melupakan rasa duka akan kehilangan anakmu?"

Setelah itu, sang Ular memberikan sebuah mutiara yang mahal kepada sang Petani dan menghilang masuk ke dalam sarang. Tetapi sebelum menghilang, sang Ular berkata: "Jangan engkau datang lagi ke sarang ku." Sang Petani mengambil mutiara tersebut, pulang ke rumahnya sambil menyesali kebodohan anaknya.

Kiranya apa pelajaran yang dapat kamu ambil dari cerita di atas? Semoga senantiasa kita dijauhkan dari rasa serakah dan terus bersyukur dengan apa yang kita punya ya sobat. Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Jumat, 21 Februari 2020

Cerita Anak - Ahli Perbintangan

Halo sobat Pancarobaku!

Bagaimana kabarnya? Semoga kamu senantiasa baik ya. Kali ini kami ingin berbagi cerita masa kecil kembali. Pengarang dari cerita ini yaitu Aesop. Semoga cerita ini senantiasa mengingatkanmu untuk kembali bernostalgia ya sobat. Selamat menikmati!



Dahulu kala hiduplah seorang tua yang dipercaya bisa meramal masa depan hanya dengan melihat susunan bintang-bintang di langit. Dia menyebut dirinya sebagai seorang ahli perbintangan (astrologer) dan menghabiskan waktunya setiap malam dengan memandangi langit.

Suatu malam saat dia berjalan di sebuah jalan di pinggiran desa. Matanya menerawang memandangi bintang di atas langit. Lantas, dia mulai memperkirakan dan meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan dari bentuk susunan bintang yang dilihatnya pada malam hari itu, tiba-tiba dia jatuh terperosok ke dalam lubang yang berisikan lumpur dan air.

Ahli Perbintangan itu pun tenggelam di dalam lumpur sampai sebatas telinganya, dan dengan panik Dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggapai pinggiran lubang agar dapat memanjat keluar.

Dalam keadaan panik, Dia lalu berteriak-teriak minta tolong dan dalam waktu singkat orang-orang desa berlarian untuk datang menolong dan menariknya keluar dari lubang. Salah seorang diantaranya lalu berkata:

"Kamu selalu berpura-pura bisa membaca masa depan dengan melihat bintang-bintang, tapi kamu gagal untuk melihat apa yang ada di bawah kakimu! Mungkin kejadian hari ini akan menjadi pelajaran agar kamu lebih memperhatikan apa yang ada di depanmu, dan membiarkan masa depan berjalan dengan sendirinya."

"Apa gunanya dapat membaca bintang-bintang," kata yang lainnya,

"Apabila kamu sendiri tidak bisa melihat apa yang terjadi di dunia?"

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari cerita di atas?
Urus dan perhatikanlah hal-hal yang kecil, sehingga dengan sendirinya hal-hal yang besar juga akan berjalan dengan baik.

Demikian sedikit cerita yang dapat kami sampaikan. Semoga kamu membacanya hingga selesai ya. Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di cerita kami berikutnya!

Rabu, 19 Februari 2020

Cerita Anak - Seekor Anjing, Ayam Jantan dan Rubah



Selamat malam sobat Pancarobaku. Kali ini kami ingin berbagi cerita fabel dari Aesop kembali. Cerita tentang seekor anjing, ayam jantan dan rubah. Cerita ini tidak begitu panjang namun saya harap kamu dapat menyukainya. Selamat menikmati!

Seekor anjing dan seekor ayam jantan yang sudah lama berteman, memiliki suatu mimpi yang besar. Mereka berharap suatu saat nanti dapat berkeliling dunia dan menemukan petualangan baru. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tanah pertanian dan melakukan perjalanan keliling dunia melalului sebuah jalan yang menuju ke hutan. Kedua sahabat itu lantas berjalan bersama diiringi semangat namun sejauh ini belum menemui petualangan seperti yang mereka sering bicarakan.

Malam hari pun tiba. Ayam jantan, mencari tempat untuk bertengger seperti kebiasaannya. Kebetulan dia melihat sebuah pohon yang berlubang dan sangat baik untuk dijadikan tempat menginap. Anjing dapat menyelinap ke dalam lubang pohon tersebut sedangkan ayam dapat terbang ke atas salah satu dahan pohon tersebut untuk bertengger di sana. Keduanya lalu tertidur dengan nyenyak di pohon tersebut.

Disaat fajar mulai menyingsing, ayam jantan pun terbangun dan sejenak dia lupa dimana dia berada. Dia mengira dirinya masih di tanah pertanian dan harus membangunkan seisi rumah pada pagi hari sesuai dengan rutinitasnya. Ayam jantan itu lantas mengepakkan sayapnya dan berkokok dengan semangat. Tetapi bukannya petani yang dibangunkannya melainkan seekor rubah yang tidur tidak jauh dari pohon. Rubah tersebut dengan cepat melihat ke arah ayam tersebut dan berpikir bahwa dia mendapatkan sarapan pagi yang sangat lezat. Dengan cepat dia mendekati pohon dimana ayam jantan bertengger, dan berkata dengan sopan:

"Selamat datang di hutan kami, tuanku yang agung. Saya tidak dapat berbicara bagaimana senangnya saya bertemu dengan Anda di tempat ini. Saya merasa yakin bahwa kita akan menjadi teman baik."

"Saya merasa tersanjung, tuan yang baik." kata ayam jantan tersebut dengan malu-malu.

"Jika kamu memang mau, pergilah ke pintu rumahku di bawah pohon ini, pelayanku akan membiarkan kamu masuk."

Rubah yang sedang lapar tak mencurigai perkataan dari ayam jantan dan segera bergegas masuk ke arah lubang di bawah pohon. Namun dalam sekejap anjing yang tadinya tidur di dalam lubang pohon itu segera menyergapnya.

Pelajaran yang dapat kita petik dari cerita ini adalah siapa yang menipu, akan menerima akibatnya sendiri. Lantas mari kita senantiasa berbuat jujur dan jangan menipu orang lain ya kawan.

Demikian sedikit cerita yang dapat kami sampaikan, semoga kamu dapat terhibur. Terima kasih dan sampai jumpa di artikel kami berikutnya!

Cerita Anak - Belajar dari Seekor Gagak

Selamat pagi sobat Pancarobaku. Semoga kabar baik senantiasa menyertaimu ya. Kali ini kami ingin membahas mengenai sebuah cerita fabel yang mungkin sudah sering kamu dengarkan. Walaupun sudah sering kamu dengarkan, tiada salahnya jika kita sejenak bernostalgia dengan cerita dari Aesop. Siapakah Aesop ini?

Aesop (diucapkan Æsop, dari bahasa Yunani Αá¼´σωπος—Aisōpos) dikenal karena cerita-cerita fabel yang dianggap diciptakan olehnya. Berbagai macam kumpulan fabel dari Aesop masih kerap kali diajarkan sebagai pendidikan moral dan digunakan sebagai subyek dari berbagai macam hiburan, khususnya dalam drama anak-anak dan kartun.

Sering kali kita mengenal Aesop fabel sebagai kumpulan cerita dari berbagai macam sumber yang berasal dari pengarang yang hidup sebelum Aesop. Namun, Aesop sendiri dikatakan mengarang banyak cerita fabel yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Lantas, bagaimana dengan pendapatmu? Tanpa menunggu lama lagi, mari kita masuk ke dalam ceritanya saja ya kawan.



Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung pun sangat sulit mendapatkan air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Namun sayang, kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang memiliki leher tinggi dan lubang yang sempit.

Burung gagak tersebut mencoba berbagai cara untuk meraih air yang berada dalam kendi, dia telah mencoba memasukkan paruhnya ke dalam kendi tersebut. Namun, gagak tersebut tetap tidak dapat mencapainya. Gagak ini pun berusaha menjatuhkan kendi tersebut, tetapi kendi ini sangatlah kokoh dan sulit untuk dijatuhkan. Bobot badan gagak tak mampu menggerakkan kendi untuk jatuh.

Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa. Karena dalam posisi yang tertekan, dia mencoba untuk menggunakan segala cara yang dia punya. Sejenak burung gagak itu pun terdiam saat melihat kerikil yang ada di samping kendi. Dia lalu mengambil kerikil tersebut, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. 

Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi. Lambat laun setelah kendi tersebut dipenuhi dengan kerikil yang dimasukkannya, gagak ini pun dapat meminum air yang ada dalam kendi tersebut. Haus yang dirasakan oleh gagak pun sirna dan dia melanjutkan perjalanannya.

Dalam hal ini kita dapat belajar dari gagak. Janganlah panik dalam keadaan genting sekalipun. Tetap tenang dan berusaha. Sedikit demi sedikit, usaha yang kita lakukan tentu akan membuahkan hasil. Selain itu, walaupun kita memiliki pengetahuan yang sedikit, namun siapa sangka pengetahuan tersebut malah bisa menolong kita disaat yang tepat.

Namun, dari cerita di atas ada sebuah pertanyaan yang terbesit dalam benak saya. Sampaikan di kolom komentar jika kamu bisa menjawab pertanyaan ini.

"Apa yang terjadi jika burung gagak tersebut tidak menemukan batu kerikil di sekitar kendi yang telah dia temukan?"

Saya akan sangat berterimakasih jika kamu mau menuangkan pikiranmu di kolom komentar. Saya yakin kalian semua memiliki jawaban yang tidak terduga. Jawaban terbaik dan terlogis akan saya beri hadiah berupa Pulsa sebesar Rp. 10.000,- . Walaupun tak seberapa, namun saya sangat senang jika kalian mau berinteraksi dengan saya di sini.

Demikian apa yang dapat kami sampaikan. Semoga menambah wawasanmu dan berguna untukmu. Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di artikel berikutnya!